Jumat, 12 September 2008

PERKEMBANGAN LINGKUNGAN STRATEGIS DAN PREDIKSI ANCAMAN TAHUN 2008

(Dikutip dari DEPARTEMEN PERTAHANAN, 4 FEBRUARI 2008)

1. Pendahuluan
Dinamika lingkungan strategis internasional selalu membawa implikasi baik positif maupun negatif pada sisi lain secara bersamaan, yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi perkembangan nasional. Implikasi positif membawa manfaat dalam mendukung cita-cita, tujuan nasional dan kepentingan nasional, sedangkan implikasi negatif menyebabkan meningkatkan potensi ancaman bagi kelangsungan hidup negara. Situasi dan kecenderungan lingkungan strategis pada awal abad 21 sangat jauh berbeda bila dibandingkan dengan periode satu dekade terakhir dalam abad 20. Situasi politik internasional saat ini selain masih diwarnai oleh permasalahan lama yang belum berhasil diatasi, dan semakin bertambah kompleks dengan hadirnya serangkaian masalah baru. Disamping itu, kecenderungan lingkungan strategis semakin sulit diperkirakan karena ketidakteraturan dan ketidakstabilan semakin menjadi corak dominan.
Dinamika politik dan keamanan internasional semakin intens karena dibawah pengaruh fenomena globalisasi dan berbagai implikasinya, negara-negara di dunia dituntut untuk saling bekerjasama, namun pada sisi lain persaingan antarnegara dalam melindungi kepentingan nasional juga semakin meningkat. Interdependensi antarnegara semakin menguat, tetapi pada saat yang bersamaan kesenjangan power ekonomi dan militer semakin melebar karena agenda dan isu internasional masih dominan dipengaruhi oleh agenda dan kebijakan negara-negara maju. Akibatnya negara-negara berkembang yang memiliki sumberdaya terbatas, harus lebih hati-hati mengatasi permasalahan yang dihadapi, lebih aktif memperkuat ketahanan nasional di berbagai bidang, dan lebih baik dalam melakukan penyesuaian-penyesuaian yang diperlukan dalam melindungi kepentingan-kepentingan nasionalnya. Untuk itu, melakukan telaahan dan prediksi kecenderungan (analisa) lingkungan strategis global dan regional, bersifat fundamental bagi proses perumusan kebijakan nasional dalam berbagai bidang. Perkembangan Lingkungan Strategis dan Prediksi Ancaman Tahun 2008

2. Lingkungan Strategis Global
Secara mendasar, isu/fenomena global yang akan terus mewarnai, mempengaruhi, dan memberi dampak terhadap lingkungan strategis saat ini adalah:

Fluktuasi Harga Minyak Dunia.

Ditengah-tengah kondisi semakin terbatasnya cadangan minyak dunia, dihadapkan dengan semakin tingginya kebutuhan akan sumber daya strategis tersebut, kecenderungan meningkatnya harga minyak dunia tidak akan dapat dihindari. Kedepan : upaya kerjasama menstabilkan harga semakin besar, upaya mengurangi ketergantungan pada sumberdaya minyak (dan gas bumi) semakin meningkat, individualisme mengamankan sumberdaya strategis semakin intens.

Perubahan Iklim.

Tanda- tanda perubahan iklim akibat dampak pemanasan global telah mulai terlihat. Walaupun kesadaran internasional tetapi komitmen menerima tanggungjawab masih rendah, seiring dengan masih lemahnya instrumen kerjasama dan pengawasan. Kedepan : upaya kerjasama untuk mengurangi laju dan memitigasi dampak pemanasan global semakin meningkat, tetapi secara bersamaan jalannya pembangunan negara berkembang menjadi terbatas.

Krisis Ekonomi.

Krisis ekonomi yang dialami negara-negara maju membawa dampak yang tidak dapat dihindari negara-negara berkembang. Interkoneksi perekonomian internasional menyebabkan krisis ekonomi semakin rawan terjadi. Kedepan : menguatnya transparansi dan pengawasan ekonomi dan keuangan internasional, namun pada saat yang bersamaan juga meningkatkan tekanan-tekanan terhadap perekonomian negara berkembang.

Dominasi Negara-Negara Maju.

Perkembangan dunia masih banyak dipengaruhi oleh kebijakan negara-negara major powers dalam mengamankan kepentingan nasional masing-masing kepentingan ekonomi, politik, dan keamanan baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang.

Kedepan :
Dinamika politik dan keamanan internasional, masih bergantung pada keseriusan negara-negara besar dalam memelihara perdamaian dan stabilitas internasional, dan mengurangi adventurisme politik luar negeri yang mendorong instabilitas dan gejolak di berbagai kawasan, Upaya reformasi dan restrukturisasi PBB semakin intens karena merupakan kepentingan mendesak dalam menjamin keadilan dan kepentingan negara-negara berkembang, tetapi akan banyak bergantung pada kerelaan dan komitmen negara-negara besar dalam mengurangi kekuasaan-nya dalam organisasi internasional tersebut. Meningkatnya upaya peningkatan kekuatan militer oleh seluruh negara di dunia dalam rangka menjamin kelangsungan hidup dengan memperkuat kemampuan daya tangkal menghadapi ancaman tradisional dan non-tradisional.

Perubahan Kekuatan Dunia.

Siklus peta kekuatan dunia selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Dengan melemahnya kedigdayaan ekonomi AS, meningkatnya kekuatan ekonomi dan militer Cina dan India, serta menguatnya leverage Rusia, perimbangan konstelasi global tengah terjadi. Kedepan : persaingan mempertahankan Perkembangan Lingkungan Strategis dan Prediksi Ancaman Tahun 2008. pengaruh global dan regional semakin mengemuka antara negara-negara besar, sehingga adaptasi terhadap pergeseran kutub interaksi internasional semakin penting, terutama bagi negara-negara berkembang.

3. Lingkungan Strategis Regional

Kawasan Amerika
Dukungan publik AS terhadap kebijakan pemerintah Bush di Irak semakin menurun, yang terefleksikan dari besarnya atensi publik AS terhadap calon-calon kandidat Presiden dari Partai Demokrat. Dari kecenderungan publik tersebut, calon kandidat dari Partai Demokrat berkesempatan memenangkan kursi Presiden AS tahun 2008, khususnya Barack Obama (Sen. Illinois) dan Hillary Clinton (Sen. New York).

Dalam Pemilu 2008, AS akan memiliki presiden baru. Kemungkinan pergantian partai penguasa dari Partai Republik ke Partai Demokrat tidak berararti adanya perubahan fundamental dalam kebijakan luar negeri AS, karena nilai-nilai dan landasan kebijakan AS tidak berubah yakni terpusat pada Demokrasi dan HAM. Namun demikian, potensi kebijakan luar negeri AS yang lebih moderat, mengedepankan multilateralisme dan memfokuskan pada pembangunan kerjasama antarnegara yang lebih erat terbuka lebar, termasuk terhadap Indonesia.

Seiring dengan menurunnya kedigdayaan ekonomi AS, pengaruh negara tersebut di kawasan Amerika Latin mendapat tantangan dari perkembangan menguatnya kebangkitan negara-negara Amerika Latin, yang menempatkan diri sebagai kekuatan yang anti-sistem pasar, anti-kapitalisme. Sosialisme di antara di kawasan Amerika Latin dapat mendorong menguatnya pergerakan paham/kelompok kiri di negara-negara lain, yang rakyat telah lama memiliki ekspektasi terhadap konsep pembangunan baru dalam menjawab krisis ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan perbaikan ekonomi.

Tahun 2007 menandai peningkatan peran dan pengaruh Rusia dalam dinamika ekonomi, politik dan keamanan di kawasan. Meningkatnya penjualan energi gas bumi, yang sejalan dengan tingginya angka penjualan senjata kepada berbagai negara, telah mendorong membaiknya kinerja ekonomi Rusia. Ditambah dengan stabilitas politik, kekuatan dan pengaruh Rusia meningkat secara signifikan. Ketergantungan negara-negara Eropa terhadap pasokan gas Rusia telah memberi negara tersebut leverage politik dalam menjamin kepentingan nasionalnya.

Meningkatnya dorongan adventurisme Rusia terlihat dari tindakan penghentian pasokan gas ke Ukraina yang kemudian berpengaruh ke negara-negara Eropa, penarikan diri dari Perjanjian Pasukan Konvensional di Eropa (Treaty of Conventional Forces in Europe / CFE) menyusul program penggelaran pertahanan rudal di kawasan Eropa (Polandia dan Ceko), dan upaya peningkatan menjadi Shanghai Cooperations Organization (SCO) sebagai kekuatan pesaing AS dan negara-negara sekutunya. Dengan kecenderungan, maka peran internasional tampaknya Rusia akan meningkat, dan negara tersebut akan lebih berani mengambil tindakan-tindakan drastis dalam rangka menjamin kepentingan nasionalnya. Dalam konteks internasional, peta kekuatan dunia akan mengalami perubahan dan Rusia dapat menjadi kutub baru kekuatan dunia.

Dukungan sejumlah negara Uni Eropa terhadap pemberian status kemerdekaan atas Provinsi Kosovo untuk memisahkan diri dari Serbia, merupakan isu sensitif yang kini berkembang di kawasan Eropa. Hal ini karena terdapat kekhawatiran : kesalahan penanganan masalah Kosovo akan menyebabkan negara tersebut kembali mengalami konflik, dan berpengaruh pada negara-negara sekitar. Perbedaan sikap pemegang hak veto, untuk sementara menyebabkan masalah ini sedikit tertahan, akan tetapi benturan kepentingan menjadi semakin sulit terhindari, khususnya Rusia yang menentang keras rencana ini. Pemberian dukungan kemerdekaan dapat menjadi suatu preseden internasional. Untuk itu, penting mengamati latarbelakang Uni Eropa sebagai salah satu kekuatan global terhadap isu ini. Campur tangan internasional terhadap masalah domestik Serbia, dapat meluas pada negara-negara lain dan menjadi suatu presenden internasional, yang berdampak terhadap negara-negara yang menghadapi masalah separatisme, seperti Rusia, Thailand, Filipina, dan Indonesia.

Kawasan Afrika
Penanganan konflik di Sudan, baik dalam rangka konflik Utara-Selatan dan konflik Darfur, memasuki tahap krusial pada tahun 2007 dengan dimulainya rangkaian perundingan perdamaian antara pihak yang bertikai dan pegelaran pasukan UA Afrika (UA) dalam rangka pemeliharaan perdamaian. Namun demikian, masih mengemuka sejumlah kendala, yang bila tidak diatasi dengan baik akan berakibat pada munculnya hambatan ataupun kegagalan tercapainya perdamaian yang diupayakan UA dan PBB.

Perkembangan politik dan keamanan di Kawasan Afrika pada tahun 2008, masih akan banyak diwarnai dengan masalah demokrasi dan HAM, khususnya dalam proses pergantian rezim kepemimpinan. Kecenderungan hadirnya kekerasan dalam politik di Afrika masih cukup kuat, sehingga rawan terjadi gejolak-gejolak yang dapat mengakibatkan jatuhnya korban sipil yang cukup banyak

Kawasan Asia

Asia Timur
Perkembangan konflik Cina-Taiwan pada tahun 2007 tidak berbeda dengan tahun sebelumnya AS tetap berada di belakang Taiwan, dalam arti akan terus memenuhi kepentingan Taiwan untuk membangun kekuatan militernya. Namun demikian, AS tetap mendukung status quo saat ini, dimana Taiwan dan Cina tidak terlibat dalam peperangan. Tetapi perkembangan menghangat kembali dengan kasus mendaratnya pesawat Presiden Taiwan di Alaska dan adanya rencana referendum di Taiwan. Pelaksanaan referendum akan menyebabkan situasi keamanan internasional berada dalam ketegangan yang berkepanjangan.

Jepang telah mengambil langkah-langkah modernisasi pertahanan dalam rangka mengantisipasi perkembangan situasi keamanan di Asia Timur, khususnya terkait pembangunan kekuatan militer Cina, nuklir Korea Utara dan ancaman terorisme. Selain mengubah status Japan Defense Agency menjadi departemen, Jepang melakukan penyederhanaan struktur kekuatan pertahanan menjadi a multifuncional, flexible and effective force, yang siap menghadapi ancaman senjata nuklir, kimia dan biologi. Jepang juga meningkatkan anggaran pertahanan yang secara tegas dinyatakan oleh Departemen Pertahanan Jepang sebagai upaya mengimbangi modernisasi persenjataan Cina dan Korea Selatan. Dalam kecenderungan potensi terganggunya status quo dalam konflik Cina-Taiwan dan meningkatkan perlombaan senjata di kawasan Asia Timur, respons Cina akan menentukan dinamika politik dan keamanan regional kedepan.

Asia Selatan
Pengaruh India di kawasan Asia Selatan meningkat seiring dengan kemajuan ekonomi dan keberhasilan pembangunan militer dalam 5 tahun terakhir. Pengaruh India memungkinkan negara tersebut berupaya menaikkan posisi tawar khususnya terhadap Pakistan dan China. Disisi lain kondisi Pakistan tetap diwarnai oleh gejolak politik dan keamanan, sehingga Pakistan lebih memfokuskan masalah politik dan keamanan di dalam negeri dibandingkan mengkhawatirkan masalah India.
Menguatnya India sebagai kekuatan regional menyebabkan arah kebijakan India pada masa mendatang dicermati, terutama berkaitan dengan kedekatannya dengan AS dan posisi yang bersaingan dengan China.

Asia Barat
Perkembangan politik dan keamanan di Irak belum juga memperlihatkan kemajuan. Aksi-aksi kekerasan yang kini berdimensi perang saudara semakin menguat. Kehadiran AS dengan proyek demokrasinya, dianggap tidak banyak kemajuan bagi penduduk Irak, bahkan sebaliknya menjadi pemicu kekerasan antar sekte, seperti Sunni dan Syiah, dan kelompok-nya.

Konferensi Annapolis membawa harapan besar terhadap penyelesaian konflik Israel- Palestina. Hasil dari konferensi ini cukup menggembirakan kedua pihak yang berkonflik mencapai kesepakatan untuk memulai kembali perundingan damai yang telah lama terhenti, sebelum akhir tahun 2008. Namun demikian, kalangan garis keras di Palestina maupun Israel kemungkinan akan menghambat tercapainya kesepakatan yang dapat diterima semua pihak.

Presiden Ahmadinejad secara konsisten menyatakan bahwa Iran tidak akan menghentikan program nuklirnya, meskipun mendapat sanksi dari DK PBB ataupun ancaman lain dari negara-negara Barat. Laporan 16 badan intelijen Amerika Serikat dalam National Intelligence Estimate menjadi modal untuk digunakan untuk menyerang kebijakan Presiden Bush. Dalam kondisi ketiadaan kepastian jaminan pasokan dari Barat, Iran tampaknya akan tetap berupaya mencapai keinginannya dalam rangka meningkatkan rasa keamanan dan leverage di tengah-tengah tekanan negara-negara Barat.

Asia Tenggara
Kontroversi perjanjian ekstradisi dan tahanan Indonesia-Singapura masih berlangsung. Permasalahan ini telah berdampak pada terganggunya hubungan Indonesia-Singapura.Percobaan kudeta kembali terjadi pada tahun 2007 di Filipina,namun penanganan cepat, tegas dan sigap menyebabkan upaya inkonstitusional kembali mengalami kegagalan. Perkembangan demokrasi di Thailand menunjukkan kemajuan dengan disepakatinya konstitusi baru. Akan tetapi, kelangsungan demokrasi di Thailand masih rawan terhadap perebutan kekuasaan antara sipil dan militer.

Isu demokratisasi dan peristiwa kekerasan berdarah di Myanmar telah menyebabkan negara tersebut dan negara-negara ASEAN menjadi pusat perhatian kalangan masyarakat internasional. Tekanan terhadap junta militer Myanmar untuk melanjutkan arus demokratisasi semakit menguat.

Kerusuhan Malaysia pada tahun 2007 akibat menguatnya tuntutan dari kaum minoritas keturunan Cina dan India atas diskriminasi dan pelanggaran HAM yang dilakukan oleh pemerintah Malaysia sempat menggoyahkan stabilitas politik negara tersebut. Bagi Malaysia, bila tidak tertangani, maka perkembangan ini akan mengarah pada reformasi di negara tersebut.

Dalam konteks stabilitas keamanan regional, sejumlah isu keamanan masih mewarnai kawasan ini seperti konflik yang bersumber pada klaim teritorial, keamanan jalur pelayaran dan perdagangan, terorisme, perompakan, bajak laut dan penyelundupan. Pembangunan kepercayaan dan peningkatan kerjasama di kawasan dalam mengatasi masalah-masalah ini terus dilaksanakan. Namun demikian, permasalahan ini menyebabkan setiap negara berupaya melakukan kekuatan militer untuk mencegah ancaman dan membangun daya tangkal.

Kawasan Australia
Secara umum perkembangan Australia pada tahun 2007 adalah langkah peningkatan kemampuan militer dan ekonomi yang cukup berarti. Namun demikian, pergantian kepemimpinan di negara tersebut menjadi isu penting yang menjadi faktor krusial bagi interaksi Australia dalam permasalahan global dan regional. Kemenangan Partai Buruh Australia, dibawah kepemimpinan Kevin Ruud, telah menimbulkan harapan baru bagi hubungan baik Indonesia dengan Australia.
Adanya perubahan kepemimpinan, tidak serta merta Australia melepaskan pengaruh besar AS. Pada prinsipnya, bentuk dan kecenderungan hubungan Indonesia dan Australia pada masa mendatang akan dipengaruhi oleh tingkat keberhasilan memperbaiki kualitas hubungan kedua negara pada masa pemerintahan Australia yang baru ini.

Tidak ada komentar: